Pertama Dalam Empat Bulan, Tak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne Australia

Pertama Dalam Empat Bulan, Tak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne Australia

Melbourne berantakan Kabar baik dari Negara bagian Victoria, Australia. Per Senin 26  Oktober 2020 wilayah tersebut melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian akibat COVID-19.

Seperti dikutip dari ABC Indonesia , Senin (26/20/2020), ini merupakan yang pertama kalinya sejak 9 Juni lalu.

Departemen Kesehatan tubuh Victoria menyatakan jumlah rata-rata peristiwa baru untuk 14 hari di Melbourne telah menurun menjadi 3, 6 kasus. Sejauh ini masih terdapat tujuh kasus “misterius”.

Sementara untuk wilayah Victoria di luar Melbourne, jumlah sama kasus baru COVID-19 kini status 0, 2 kasus.

Jeroen Weimar yang memimpin ulangan COVID-19 di Victoria mengatakan kemarin telah dilakukan 2. 100 tes untuk wilayah Melbourne utara serta ratusan lainnya masih dalam jalan pemeriksaan laboratorium. Tes tersebut dilaksanakan setelah ditemukan adanya penyebaran mutakhir pada dua sekolah di provinsi tersebut pekan lalu.

“Kami ingin memastikan tidak tersedia rantai transmisi lain di wilayah utara sehingga kami dapat menganjurkan lampu hijau bagi pelonggaran bertambah lanjut, ” ujar Jeroen.

Wali Kota Melbourne Sally Capp secara terpisah telah mendesak Menteri Utama (Premier) Daniel Andrews, untuk menerapkan rencana membuka balik perekonomian ibukota Victoria ini.

“Kami membutuhkan kejelasan serta kepastian bagi para pengusaha yang mulai memiliki rasa optimisme, ” katanya.

Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt juga mengetengahkan hal yang sama, agar Victoria tetap melaksanakan rencana pelonggaran dengan telah ditetapkan sebelumnya.

Menkes Hunt mengatakan target jumah kasus baru di bawah 10 yang ditetapkan Pemerintah Federal mengikuti di bawah lima kasus dengan ditetapkan Pemerintah Victoria, semuanya sudah tercapai saat ini.

“Jika mereka percaya pada bentuk pelacakan kontak yang mereka kerjakan, maka tak ada alasan lagi untuk tidak beranjak ke tahap berikutnya pada hari ini, ” katanya.

Laporan ekonomi terbaru yang dirilis hari itu menunjukkan peringkat Victoria jatuh lantaran urutan kedua menjadi yang ketiga dibandingkan dengan negara bagian yang lain.

Anjloknya belanja konsumen membuat Victoria turun dari kedudukan kedua menjadi yang kelima buat kategori perdagangan ritel, sementara tingkat pengangguran pada kuartal ini mencapai 6, 7 persen.

Tasmania, yang tidak mengalami kejadian baru COVID-19 selama 75 keadaan, kini menjadi negara bagian secara kinerja ekonomi terbaik selama tiga bulan berturut-turut.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular & Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Vaksin COVID-19 di Australia 

Sementara itu, Pemerintah Federal mengatakan menetapkan waktu hingga 12 bulan buat meluncurkan vaksinisasi virus corona dalam Australia, tergantung pada kandidat vaksin mana yang berhasil.

Menteri Perindustrian Karen Andrews mengutarakan perusahaan medis CSL dan lembaga penelitian CSIRO telah diperlengkapi untuk segera membuat vaksin “berbasis protein” – seperti yang dikembangkan oleh University of Queensland.

CSL juga sedang dalam jalan menyelaraskan kembali teknologi produksinya buat membuat vaksin Oxford University-AstraZeneca lantaran pabriknya di Melbourne.

Vaksin tersebut secara teknis ialah vaksin berbasis non protein yang dikenal dengan “vektor virus”. Tapi CSL mengatakan bisa memproduksinya di sini dan telah meningkatkan cara untuk mewujudkannya.

Pemerintah Australia telah berkomitmen untuk membeli 26 juta dosis vaksin Oxford-AstraZeneca, yang dianggap sebagai pelopor pengerjaan vaksin COVID-19.

Tetapi ada vaksin lain yang sedangkan diujicobakan oleh perusahaan farmasi tercatat Moderna, yang dikenal sebagai vaksin mRNA.

Menteri Karen Andrews menjelaskan bahwa pembuatan jenis vaksin ini di Australia hendak membutuhkan waktu lebih lama.

“Saya berharap kita bisa melakukannya dala sembilan hingga 12 bulan, ” ujarnya.

Apa Itu Vaksin Berbasis Zat putih telur?

Vaksin berbasis zat putih telur adalah standar utama, menurut ahli penyakit menular Profesor Robert Booy dari Universitas Sydney.

“Vaksin berbasis protein telah dimanfaatkan selama beberapa dekade, dipercaya damai dan efektif untuk melindungi budak dan anak-anak dari berbagai infeksi, termasuk infeksi bakteri, ” katanya kepada ABC.

Virus corona seperti virus SARS-CoV-2 dengan menyebabkan COVID-19 menyerang sel menggunakan “protein spike” sehingga salah utama cara untuk menghentikan virus itu yaitu dengan memblokir protein spike tersebut agar tak memasuki sel.

Vaksin berbasis protein melakukan pemblokiran dengan melatih awak manusia untuk memproduksi antibodi melawan protein spike virus corona sebelum dapat menginfeksi sel-sel sehat.

Vaksin yang dikembangkan Universitas Queensland didasarkan pada pendekatan teori seperti ini.

Barang apa Itu Vaksin Berbasis Non-Protein?

Salah satu jenis vaksin non-protein yang paling menjanjikan ialah vaksin mRNA, kependekan dari “vaksin asam ribonukleat messenger”.

Vaksin ini secara efektif mendatangkan instruksi molekuler untuk membuat zat putih telur, sehingga tubuh seseorang dapat memproduksinya.

Idenya adalah tubuh kemudian akan memperlakukan protein ini sebagai bahan asing dan memajukan respons kekebalan dan, seperti vaksin berbasis protein, menghasilkan antibodi dengan mengingat dan melawan virus kalau tubuh menemukannya kembali.

Profesor Tony Cunningham, direktur Was-was Penelitian Virus Westmead Institute pada Universitas Sydney, melukiskannya seperti upaya menghentikan kapal untuk berlabuh.

“Satu-satunya perbedaan yaitu vaksin berbasis protein diproduksi di asing tubuh dan disuntikkan ke dalamnya, sedangkan vaksin mRNA akan menghasilkan tubuh kita memproduksi protein itu, ” jelasnya.

Kandidat vaksin terkemuka yang diproduksi oleh Institut Kesehatan Nasional AS dan Moderna didasarkan pada teknologi itu, yang telah memulai uji klinis fase ketiga.

Vaksin Moderna adalah bagian dari rencana vaksin global COVAX, yang sudah ditandatangani Australia.

Vaksin buatan Universitas Oxford secara teknis merupakan vaksin berbasis non-protein karena menggunakan strategi “vektor virus”.

Meskipun vaksin mRNA betul menarik, Profesor Booy memperingatkan vaksin jenis ini belum pernah lulus diproduksi dan didistribusikan sebelumnya.

Dia mengatakan jenis vaksin lain lebih mungkin tersedia serta dikirimkan dengan aman sebagai opsi pertama.

Menkes Greg Hunt juga menyatakan vaksin berbasis protein dapat diproduksi di Australia pada kuartal pertama tahun 2021.

Mengapa vaksin mRNA yang berbasis non-protein membutuhkan zaman lebih lama untuk diproduksi? Jawabannya sederhana: karena belum pernah dibuat sebelumnya.

3 dari 4 halaman

Menanti Hasil Uji Klinis Calon Vaksin COVID-19

4 dari 4 kaca

Saksikan Juga Video Tersebut:

Related Articles

Once Mekel Persembahkan Lagu Baru untuk Musisi Indonesia

Liputan6. com, Jakarta - Elfonda Mekel atau lebih dikenal dengan nama panggung Once Mekel resmi merilis lagu terbarunya. Lagu yang diperkenalkan eks vokalis Dewa 19 itu kepada pecinta musik Indonesia diberi judul "Musisi".
Read more

Sempurna 3 News: Putra Eks Pimpinan GAM Lolos TNI AD maka Potensi Gempa Megathrust

Liputan6. com, Jakarta - Top 3 news hari tersebut, putra mantan pimpinan militan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM di Aceh Nurdin Ismail alias Din Minimi lulus seleksi menjadi tentara TNI Angkatan Darat (AD). Keyakinan Minimi pun lantas menggelar kesibukan syukuran di kediamannya di medan Lamdom, Banda Aceh, Aceh.
Read more

Mau Punya Tanaman Janda Bolong, Ragam Anak Ini Malah Bikin Ngakak Ibunya

Liputan6. com, Jakarta Di saat industri pariwisata sedang lesu, hal itu tidak asi bagi pengusaha tanaman hias dengan omsetnya semakin tinggi. Banyaknya zaman yang bisa dihabiskan di di dalam rumah, orang-orang mulai mencari hobi baru dengan bercocok tanam.
Read more
Search for: